Terbaik & Terpercaya
Indeks

Membangun Budaya Literasi, Investasi Jangka Panjang Pembangunan Kualitas SDM

Ist Literasi Kabupaten Musi Rawas

Tingkat Literasi Masyarakat dalam suatu daerah akan berpengaruh terhadap perkembangan di daerah itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan pengaruh tingkat membaca seseorang terhadap wawasan, mental dan prilakuknya.

Hal ini tentunya berkaitan dengan pembangunan sumber daya manusia yang sesungguhnya, karena pembangunan ini sifatnya adalah pengembangan dan pembentukan individu itu sendiri secara langsung oleh dirinya sendiri.

Literasi secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis. Kita mengenalnya dengan melek aksara. Namun sekarang ini literasi memiliki arti luas, sehingga keberaksaraan bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti, diantaranya yang saat ini kita kenal adalah literasi media, literasi digital, literasi keuangan, literasi informasi dan masih banyak lagi cabang dalam aspek kehidupan.

Jadi literasi saat ini telah dimaknai pada kemampuan berpikir kritis, peka terhadap lingkungan, bahkan juga peka terhadap kondisi sosiopolitik. Seorang dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca informasi yang tepat dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahamannya terhadap isi bacaan tersebut. Kepekaan atau kemampuan ini ( literat) merupakan sebuah proses, jadi untuk melahirkan generasi yang literat tidak bisa begitu saja, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan untuk mencetak dan melahirkan generasi yang literat.

Membangun budaya literasi, khususnya di daerah merupakan salah satu upaya dalam pembangunan sumber daya manusia. Kebijakkan daerah pada penguatan Budaya Literasi ditandai komitmen dengan dukungan terhadap pengembangan Perpustakaan maupun Gerakan-gerakan pembudayaan gemar membaca adalah investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia.

Perpustakaan yang merupakan tempat belajar sepanjang hayat menjadi tempat yang akan merawat peradaban sekaligus merawat nilai-nilai keilmuan dan wawasan untuk generasi kita terus belajar dan berproses, membentuk mental dan karakter dirinya.

Bahkan dewasa ini Perpustakaan telah bertransformasi menjadi layanan perpustakaan berbasis inklusi social yang diharapkan mampu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

Tidak ada manusia yang sudah literat sejak lahir. Jadi generasi yang literat atau melek literasi itu harus dilahirkan dalam sebuah proses yang cukup panjang dengan dukungan dari berbagai pihak.

Budaya literasi juga sangat terkait dengan pola pembelajaran dan ketersediaan bahan bacaan di perpustakaan. Tapi kita juga menyadari bahwa literasi tidak harus diperoleh dari bangku sekolah atau pendidikan yang tinggi. Kemampuan akademis yang tinggi tidak menjamin seseorang akan literat, akan tetapi tingkat pendidikan seseorang atau biasa kita kenal dengan harapan lamanya bersekolah menjadi salah satu factor yang membentuk tingkat literasi seseorang.

Pada dasarnya kepekaan dan daya kritis akan lingkungan sekitar lebih diutamakan sebagai jembatan menuju generasi literat, yakni generasi yang memiliki ketrampilan berpikir kritis terhadap segala informasi untuk mencegah reaksi yang bersifat emosional atau reaksioner.

Berbagai faktor dianggap sebagai penyebab rendahnya budaya literasi, kebiasaan membaca adalah salah satunya yang dianggap sebagai factor mendasar yang memberikan kontibusi besar. Pada Tahun 2019-2020 Indeks Kegemaran Membaca Masyarakat di Kabupaten Musi Rawas adalah 47, 167 masuk dalam kategori “ KURANG”.

Salah satu penyebabnya adalah dikarenakan aktivitas membaca dijadikan sebagai aktivitas untuk membunuh waktu, megisi waktu luang, bukan dengan sengaja dilakukan karena kebutuhan. Padahal seperti yang kita ketahui bersama membaca adalah salah satu upayaa peningkatan mutu sumber daya manusia. Agar lebih cepat meng up date wawasannya untuk  cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan global yang meliputi berbagai aspek kehidupan.

Untuk menumbuhkan budaya baca, maka pembiasaan membaca harus ditumbuhkan. Pembiasaan bukan merupakan proses yang bias tumbuh begitu saja.Pembiasaan, khususnya pembiasaan membaca perlu didukung oleh factor lingkungan serta penunjang lainnya.

Salah satu upaya Pemerintah Daerah Kabupaten Musi Rawas untuk menunjang hal tersebut adalah dengan telah memiliki gedung Perpustakaan Daerah yang cukup representative yang berlokasi di Kecamatan Tugumulyo dan penambahan fasilitas wifi pada Pojok Baca Digital (POCADI) yang ada di Muara Beliti. Kedua tempat ini telah dilengkapi dengan beberapa fasilitas- fasilitas pendukung yang dapat digunakan oleh masyarakat di Kabupaten Musi Rawas untuk belajar dan menambah wawasannya.

Bukan hanya faslitas tempat yang nyaman dan representative juga akan mendukung pembiasaan membaca tersebut. Menjadikan Perpustakaan maupun pojok- pojok baca menjadi tujuan untuk dikunjungi bukan hanya tempat membunuh waktu.

Untuk itulah di tingkat Desa/ kelurahan juga seyogyanya menyediakan fasilitas minimal taman baca masyarakat yang nyaman dan representative, pun bahan pustakanya harus bervariasi dan menarik untuk membuat anak-anak khususnya dan amasyarakat pada umumnya tertarik dengan bahan pustaka yang ada.

Bahan-bahan pustaka terapan maupun ketrampilan praktis yang mudah dipahami oleh masyarakat, akan membantu masyarakat bukan hanya menambah wawasannya tapi juga meningkatkan ketrampilannya. Dengan peningkatkan wawasan dan ketrampilan maka akan lahir generasi- generasi literat, generasi- generasi unggul yang merupakan SDM yang berkualitas.(*)

*Penulis merupakan Bapak Literasi Kabupaten Musi Rawas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *